fbpx
matrix adalah

Mengembangkan Potensi Karyawan dengan 9 Box Matrix, Bagaimana Caranya?

Menjalankan model 9 box matrix adalah upaya perusahaan untuk meningkatkan kualitas karyawan. 

Tugas seorang HR tidak hanya untuk mengelola karyawan, tetapi juga bertugas untuk mengembangkan karyawan. Banyak berbagai matrix pengukuran yang dapat digunakan. Salah satunya ialah model 9 box matrix yang sering digunakan untuk pengembangan karyawan. Artikel berikut ini akan membahas apa itu 9 box matrix dan bagaimana prinsip kerjanya. 

Baca juga: Meningkatkan Kinerja Karyawan, Jangan Lupa 3 Faktor Kunci Ini!

Apa Itu 9 Box Matrix?

Model 9 box matrix adalah konsep atau model yang digunakan untuk talent management yang dapat membantu HR dalam mengembangkan potensi karyawan. Dalam 9 box matrix terbagi menjadi dua matrix yaitu potensi (potential) dan kinerja (performance). Yang di mana matrix potential berada pada sumbu vertikal dan matrix performance pada sumbu horizontal. Semakin ke atas indikator potensi dan kinerja maka semakin baik nilainya. 

Prinsip penggunaan dari model 9 box matrix ialah HR akan mengelompokkan masing-masing karyawan ke dalam 9 box matrix yang disusun berdasarkan kedua matrix tersebut. 

Dengan membuat 9 box matrix ini memiliki tujuan agar dapat membantu HR dalam melakukan pemetaan untuk menentukan arah strategi dalam pengembangan karyawan. 

Tahapan Menggunakan 9 Box Matrix

Berikut ialah beberapa tahapan yang perlu kamu lalui agar penggunaan 9 box matrix menjadi maksimal. 

#1 Tentukan siapa saja pihak yang terlibat dalam penilaian

Model 9 box matrix ini sifatnya sangat subjektif sehingga akan memunculkan ketimpangan yang dipengaruhi pengalaman kerja, kedekatan, dan emosi. Oleh karena itu, dalam penggunaan model ini HR harus dapat menentukan siapa saja pihak yang terlibat dalam penggunaan matrix. Misalnya, kamu dapat mendatangkan konsultan HR, pimpinan divisi, hingga karyawan yang akan dinilai. 

#2 Samakan persepsi

Setelah kamu menentukan siapa saja pihak yang terlibat, selanjutnya ialah menyamakan persepsi terhadap penggunaan 9 box matrix. Kamu perlu mengemukakan permasalah, perkembangan, dan tujuan dalam digunakannya matrix tersebut. Persepsi yang dimaksud juga termasuk divisi, tingkat pekerjaan, atau cabang perusahaan mana yang akan dinilai. 

Baca juga: 8 Cara Meningkatkan Pola Berpikir Kritis di Tempat Kerja

#3 Menentukan tolak ukur matrix

Pada 9 box matrix memiliki dua matrix yaitu potensi dan kinerja yang memiliki 3 tingkatan indikator pada masing-masing matrix yaitu low (rendah), fair (menengah), dan high (tinggi). 

  • Low performance: Karyawan yang tidak mampu memenuhi target kerja.
  • Fair performance: Karyawan yang kinerjanya memenuhi target kerja.
  • High performance: Karyawan yang mampu melampaui target kerja. 

Dalam menganalisis indikator performance sangat bergantung pada perusahaan. Apakah perusahaan memiliki job desk dan target kerja yang jelas atau tidak. Jika perusahaan memiliki target kerja yang jelas, tentu akan mempermudah kamu dalam menentukan tolak ukur matrix ini. 

Sedangkan dalam menganalisis indikator potensi sama halnya seperti indikator performance. Di mana pada titik low potential ialah karyawan yang kurang atau bahkan tidak memiliki motivasi dan kemampuan kerja. Sedangkan fair potential ialah karyawan yang sebenarnya memiliki potensi besar namun tidak terakomodasi dengan baik. Lalu, high potential ialah karyawan yang sangat loyal terhadap perusahaan. 

Penilaian potensi ini juga bisa berasal dari tingkat engagement. Karena tingkat engagement berpengaruh terhadap tingkat motivasi kerja karyawan. 

Baca juga: 10 Cara Meningkatkan Moral Karyawan Demi Kultur Lebih Baik

Proses Penilaian dan Perencanaan Strategi

Dalam talent management, setelah menentukan tolak ukur, ialah dengan melakukan penilaian. Penilaian setiap box matrix dapat disimpulkan sebagai berikut. 

#1 Bad Hire

Jika kamu mendapatkan karyawan yang memiliki potensi dan kinerja yang buruk penyebabnya ialah beragam. Bisa saja karena kamu salah merekrut, persoalan personal dengan rekan kerja, atau penempatan kerja yang salah. Cara menyusun strategi ini kamu dapat berbicara secara one-0n-one, memindahkan ke divisi lain, atau jika memang strategi tersebut tidak berhasil kamu dapat memecatnya atau membiarkannya dalam masa percobaan yang dilakukan selama 3 bulan. 

#2 Up or Out

Up or Out terbagi menjadi dua yaitu dilemma dan grinder. Untuk kelompok dilemma ialah karyawan yang memiliki potensi pada tingkat sedang tapi memiliki kinerja yang buruk. Pada kelompok ini kamu dapat melakukan pendekatan melalui one-on-one atau program mentoring.

Sedangkan untuk kelompok grinder ialah karyawan yang memiliki potensi rendah tapi performanya biasa-biasa saja. Kamu dapat mengembangkan potensi karyawan tersebut dengan mengikutsertakan pada pelatihan-pelatihan kerja. 

#3 Dysfunctional Genius dan Workhorse

Pada kelompok dysfunctional ialah karyawan yang memiliki kinerja buruk namun memiliki potensi yang bagus. Sedangkan workhorse sebaliknya, karyawan kelompok ini memiliki kinerja baik namun potensi yang buruk. Strategi untuk mempertahankan kinerja dan potensi pada dua kelompok tersebut yaitu dengan memberikan benefit yang lebih baik, naik gaji, serta meningkatkan nilai budaya kerja. 

#4 Stars and Future Stars (High Potential and Performers, Core Players)

Kelompok karyawan ini merupakan kelompok yang memiliki matrix di atas rata-rata. Yang dapat kamu lakukan untuk kelompok ini adalah dengan meningkatkan potensi dan kinerja mereka melalui tanggung jawab dan reward yang lebih baik. 

Dengan demikian 9 box matrix adalah model yang dapat diterapkan oleh perusahaan demi kelancaran kinerja karyawan. 

 

Sumber: AIHR

Simak juga:

Ingin Berkarier Sebagai HRD? Ini 4 Hal yang Perlu Kamu Catat!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *