
Sekarang ini, banyak pemilik bisnis bertanya-tanya apakah BI rate naik lagi atau tidak? Sebagian lagi menerka-nerka apakah badai suku bunga sudah lewat karena angkanya tidak berubah sejak Juni.
Kenyataannya, kenaikan 100 bps itu hanya mulai merambat ke bunga kredit, dan bank makin selektif dalam menyalurkan modal kerja.
Jadi, kalau bisnis kamu baru bergerak saat tagihan bunga naik, ruang geraknya sudah sempit.
Apakah BI Rate Naik Lagi? Ini Posisinya Sekarang
Sepanjang 2026, Bank Indonesia telah menaikkan BI rate sebanyak tiga kali:
- 20 Mei 2026: naik 50 bps ke 5,25%
- 9 Juni 2026: naik 25 bps ke 5,50%
- 18 Juni 2026: naik 25 bps ke 5,75%
Sejak itu, BI menahan suku bunga di angka 5,75% pada RDG Juli, Agustus, dan September. Alasannya adalah akibat tekanan global belum mereda: The Fed menaikkan suku bunganya ke 3,75–4% pada September, dan peluang kenaikan lanjutan masih terbuka.
BI sendiri memang membuka ruang penurunan, tapi hanya jika rupiah stabil. Keputusan berikutnya akan diumumkan pada RDG 20–21 Oktober 2026.
Jadi, BI rate memang belum naik lagi, tapi juga belum ada kepastian akan turun. Untuk perencanaan bisnis, anggap bunga tinggi akan bertahan beberapa bulan ke depan.
Kenapa Dampaknya Baru Terasa Sekarang?

Sejatinya, BI rate tidak akan mengubah bunga pinjamanmu secara langsung.
Justru bank akan menyesuaikan suku bunga kredit dalam beberapa tahap, mengikuti biaya dana dan angka persaingan.
Melansir Trading View, data BI sendiri menunjukkan rata-rata bunga kredit perbankan baru naik dari 8,73% (April) ke 8,81% (Juni), angka yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan lonjakan 100 bps di BI rate.
Penyesuaian sisanya biasanya menyusul saat kredit diperpanjang atau diajukan baru.
Hasilnya, pemilik bisnis menghadapi dua tekanan sekaligus:
- Biaya naik: Kadin menilai perusahaan yang bergantung pada pinjaman bank akan menghadapi tekanan margin lebih besar.
- Akses menyempit: APINDO memperingatkan bank agar lebih selektif dalam keperluan penyaluran modal kerja, terutama untuk UMKM.
Sebagai gambaran, jika kamu memakai fasilitas modal kerja Rp2 miliar dan bunganya naik 1 poin persentase, biaya bunga bertambah sekitar Rp20 juta per tahun.
Itu belum termasuk risiko perpanjangan kredit yang tertunda di momen saat kamu paling membutuhkannya.
5 Strategi Modal Kerja Saat Kredit Makin Mahal
Lalu, apa yang baiknya kamu lakukan agar modal kerja terus tersedia saat nilai kredit terus melambung tinggi? Berikut strategi terbaiknya?
1. Petakan semua utang berbunga mengambang
Catat fasilitas mana yang bunga dari utang bisa berubah dan kapan jatuh tempo. Prioritaskan pelunasan yang paling mahal.
2. Percepat piutang sebelum menambah utang
Uang yang tertahan di tagihan pelanggan adalah modal yang sudah kamu miliki. Perketat termin untuk klien baru, kirim invoice tepat waktu, dan tindak lanjuti tagihan yang mendekati jatuh tempo.
3. Sesuaikan jenis pembiayaan dengan kebutuhannya
Celah kas 30–90 hari sebaiknya ditutup dengan pembiayaan jangka pendek, bukan kredit jangka panjang yang bunganya terus berjalan setelah kas masuk.
4. Bangun proyeksi kas mingguan
Proyeksi 13 minggu membantumu melihat kapan kas menipis, sehingga pendanaan bisa disiapkan lebih awal, bukan secara darurat.
5. Ubah invoice menjadi modal kerja
Jika bisnismu B2B dengan termin pembayaran panjang, invoice yang belum jatuh tempo bisa menjadi sumber modal tanpa menambah agunan.
Invoice Financing: Modal Kerja dari Tagihan yang Sudah Kamu Punya

Banyak pembahasan soal BI rate berhenti di saran “lebih hati-hati ketika berutang”.
Masalahnya, operasional tetap butuh kas; karyawan harus digaji, tapi klien tetap membayar 30–90 hari kemudian.
Nah, Invoice Financing GajiGesa membantumu mencairkan s/d 85% nilai invoice yang belum jatuh tempo, dengan tenor hingga 90 hari dan tanpa agunan tambahan.
Dikarenakan pembiayaan mengikuti invoice, kamu hanya membiayai celah kas sampai klien membayar, lalu fasilitas dilunasi dari pembayaran tersebut.
Tetap bandingkan total biaya dengan alternatif lain, lalu pilih yang paling sesuai dengan siklus kas bisnismu.
Ingin tahu berapa modal yang bisa kamu cairkan dari invoice yang ada sekarang? Isi formulir di bawah artikel ini, dan tim GajiGesa akan menghubungimu untuk mendiskusikan kebutuhan bisnismu.
FAQ
5,75%, ditahan pada RDG 22–23 September 2026.
Keputusannya diumumkan pada RDG 20–21 Oktober 2026. Hingga September, BI menahan suku bunga dan menyebut ada ruang penurunan jika rupiah stabil, meski tekanan dari suku bunga AS masih tinggi.
Bunga kredit cenderung naik bertahap, bank lebih selektif, dan margin bisnis yang bergantung pada utang makin tertekan.
Cocok untuk bisnis B2B dengan invoice aktif dan termin pembayaran panjang, karena pembiayaannya hanya menutup celah kas hingga klien membayar.


