Blog

7 Cara Jitu untuk Mengatasi Isu Term of Payment yang Lama

cara mengatasi term of payment lama

Rasanya, bukan lagi rahasia kalau term of payment (TOP) yang lama dapat menjadi isu finansial besar bagi pemilik usaha.

Menurut riset Atradius, hal tersebut bisa membuat modal kerja tertahan di piutang: barang sudah dikirim, invoice sudah terbit, tetapi uangnya baru masuk 60–90 hari kemudian. Di Indonesia sendiri, rata-rata 49% invoice B2B terlambat dibayar.

Jelas, keterlambatan itu menyusahkan bagi bisnis. Operasional tidak jalan, karyawan telat digaji, bahkan supplier resah karena belum dibayar.

Masalahnya adalah kebanyakan pemilik usaha tidak menemukan jalan keluar. TOP yang lam dianggap hal lumrah dalam bisnis dan perusahaan harus bisa terus bertahan.

Padahal, kamu tidak perlu berdiam lama dalam situasi tersebut. Sebab, di era modern ini ada beberapa cara jitu untuk mengatasi isu term of payment yang lama. Nah, apa saja trik-triknya? Yuk, simak selengkapnya di bawah ini!

Apa Itu Term of Payment dan Kapan Dianggap Terlalu Lama?

Jadi, term of payment (TOP) adalah batas waktu yang disepakati bagi pembeli untuk melunasi invoice.

Contohnya NET 30, artinya pembayaran jatuh tempo 30 hari setelah tanggal invoice. Format lain yang umum adalah CBD (bayar sebelum kirim), COD (bayar saat barang diterima), NET 45/60/90, dan EOM (dihitung dari akhir bulan).

TOP disebut terlalu lama bukan karena angkanya, tetapi karena lebih panjang dari siklus kas bisnismu. Gaji dibayar tiap bulan dan tagihan supplier umumnya 30 hari. Jika pelanggan baru membayar di hari ke-60, ada celah sekitar 30 hari yang harus ditutup dari kas sendiri.

Nah, sebelum kamu mulai menerapkan segala bentuk cara untuk mengatasi isu term of payment lama, coba ukur celah itu dengan siklus konversi kas (cash conversion cycle).

(Siklus Konversi Kas = DIO + DSO – DPO)

DIO adalah rata-rata hari stok tersimpan, DSO rata-rata hari sampai pelanggan membayar, dan DPO rata-rata harimu membayar supplier.

Semakin besar hasilnya, semakin lama uangmu tertahan. Sebagai pembanding, rata-rata TOP B2B di Indonesia sekitar 50 hari di sektor agri-food dan farmasi, dan 55 hari di sektor kemasan.

Dampak Term of Payment yang Lama Bagi Bisnis

cara mengatasi term of payment lama

Sebelumnya, GajiGesa sudah memaparkan beberapa dampak negatif dari term of payment yang lama.

Tapi, bukan itu saja isunya. TOP yang lama dapat memindahkan beban pembiayaan dari pelanggan ke bisnis kamu.

Selama invoice belum dibayar, bisnismu yang akan menalangi biaya produksi, gaji, dan pajak.

Survei Atradius 2025 mencatat rata-rata 49% invoice B2B di Indonesia terlambat dibayar, dan 8% akhirnya dihapus sebagai piutang tak tertagih (Atradius, 2025).

Adapun empat dampak yang paling sering terasa dari isu TOP lama adalah:

  • Biaya tetap jalan, dana belum masuk: Gaji, sewa, dan tagihan supplier jatuh tempo lebih dulu daripada pembayaran pelanggan.
  • Pajak dibayar di muka: PPN umumnya terutang saat penyerahan barang atau jasa, bukan saat uang diterima. Dengan TOP 60–90 hari, PPN sudah bisa disetor sebelum invoice lunas.
  • Order besar terlewat: Modal untuk pesanan baru masih tertahan di invoice lama.
  • Risiko piutang macet naik: Semakin lama invoice menggantung, semakin besar peluangnya tidak tertagih.

Modal tertahan di invoice yang belum dibayar? Invoice Financing GajiGesa mencairkan invoice yang belum jatuh tempo, dengan plafon hingga Rp2 miliar dan tenor hingga 90 hari. Pelajari Invoice Financing GajiGesa

7 Cara Mengatasi Term of Payment yang Lama

1. Negosiasikan termin dan pembayaran bertahap sejak awal

TOP paling mudah diubah sebelum kontrak ditandatangani. Minta uang muka (DP) 20–30%, atau tagih per tahap pekerjaan (milestone billing) untuk proyek panjang.

Untuk pelanggan baru, mulai dengan TOP pendek dan longgarkan setelah riwayat bayarnya terbukti.

Siapkan imbal balik agar negosiasi tidak buntu, misalnya harga khusus untuk volume tertentu atau prioritas pengiriman.

2. Tawarkan diskon untuk pembayaran lebih cepat

Skema yang umum adalah “2/10 net 30”: pelanggan mendapat potongan 2% jika membayar dalam 10 hari, atau membayar penuh di hari ke-30. Cara ini efektif untuk pelanggan yang kasnya longgar.

Hitung biayanya lebih dulu. Diskon 2% untuk pembayaran 20 hari lebih cepat setara dengan sekitar 37% per tahun, sedangkan diskon 1% setara sekitar 18% per tahun.

Bandingkan dengan biaya pembiayaan sebelum menawarkannya.

3. Kirim invoice lebih cepat, lengkap, dan sesuai prosedur pelanggan

TOP baru berjalan setelah invoice diterima dan disetujui. Invoice yang terlambat atau dokumennya kurang membuat hitungan hari mundur, meski barang sudah lama dikirim.

  • Terbitkan invoice di hari yang sama dengan pengiriman atau serah terima.
  • Lampirkan dokumen yang diminta pelanggan: nomor PO, surat jalan atau berita acara serah terima, dan faktur pajak.
  • Cari tahu jadwal pembayaran (payment run) dan batas terima invoice di tim finance pelanggan.

4. Jalankan penagihan yang terjadwal

Cara lainnya untuk mengatasi term of payment lama adalah menjalankan penagihan yang terjadwal.

Penagihan yang konsisten lebih efektif daripada menagih ketika kas sudah menipis. Kirim pengingat sebelum dan sesudah jatuh tempo, misalnya H-7, H-1, H+1, dan H+7. Tetapkan satu PIC per pelanggan.

Pantau laporan umur piutang (aging) per kelompok 0–30, 31–60, 61–90, dan di atas 90 hari. Invoice yang masuk kelompok 61–90 hari perlu ditangani lebih dulu.

5. Tetapkan kebijakan kredit dan klausul denda di kontrak

Tidak semua pelanggan layak diberi TOP panjang. Nilai riwayat bayar dan kondisi keuangan calon pelanggan, lalu tetapkan limit kredit dan TOP per kelompok pelanggan.

Tulis aturannya di kontrak: tanggal jatuh tempo, denda keterlambatan, dan hak menahan pengiriman berikutnya jika ada tagihan yang menunggak.

6. Selaraskan termin ke supplier dan proyeksikan arus kas

Jika pelanggan membayar dalam 60 hari, usahakan termin ke supplier mendekati angka yang sama. Celah kas mengecil tanpa harus mengubah TOP pelanggan.

Susun proyeksi arus kas 13 minggu yang memuat jadwal gaji, tagihan supplier, pajak, dan perkiraan pembayaran pelanggan. Proyeksi ini menunjukkan kapan celah kas muncul, jauh sebelum terjadi.

7. Cairkan invoice lebih awal lewat Invoice Financing

Jika TOP memang tidak bisa dipersingkat, invoice financing menutup celahnya. Invoice yang belum jatuh tempo dijadikan dasar pembiayaan, sehingga sebagian besar nilainya cair lebih awal. Fasilitas dilunasi ketika pelanggan membayar invoice tersebut.

Cara ini cocok untuk bisnis B2B yang pelanggannya kredibel tetapi lambat membayar, misalnya distributor, supplier ke ritel modern, atau perusahaan jasa ke korporasi.

Salah satu pilihan terbaiknya adalah Invoice Financing GajiGesa: plafon hingga Rp2 miliar per usaha per siklus, tenor hingga 90 hari, dan biaya mulai 1,75% per bulan yang dihitung dari pokok berjalan.

Perbandingan Opsi Menutup Celah Kas Akibat TOP Panjang

Pilih berdasarkan seberapa cepat dana dibutuhkan dan berapa biaya yang masih masuk akal. Angka biaya di bawah ini adalah gambaran umum; penawaran tiap penyedia berbeda.

OpsiKapan dana masukBiayaAgunanPaling cocok untuk
Uang muka atau termin bertahapSaat kontrak atau per tahap selesaiTanpa biaya langsung, butuh daya tawarTidak perluProyek dan pesanan khusus
Diskon bayar cepat (2/10 net 30)Bergantung pada kesediaan pelangganDiskon 1–2% per invoice, setara ±18–37% per tahunTidak perluPelanggan dengan kas longgar
Kredit modal kerja bankUmumnya lebih lama karena analisis dan agunanBunga pinjaman bankUmumnya perlu agunanKebutuhan modal rutin jangka panjang
Anjak piutang (factoring)Setelah piutang dialihkan dan disetujuiDiskonto atau fee atas nilai piutangPiutang dialihkan, pelanggan umumnya diberi tahuPiutang besar ke pelanggan korporat
Invoice FinancingSetelah pengajuan disetujuiContoh GajiGesa: mulai 1,75% per bulanContoh GajiGesa: tanpa agunan tambahanBisnis B2B dengan invoice aktif ke buyer tepercaya

Kapan Sebaiknya Memilih Invoice Financing GajiGesa?

invoice financing gajigesa

Invoice Financing GajiGesa cocok ketika TOP pelanggan tidak bisa dipersingkat, tetapi bisnis butuh modal sekarang. Invoice yang belum jatuh tempo dicairkan lebih awal, lalu fasilitas dilunasi dari pembayaran invoice oleh buyer kamu.

KetentuanInvoice Financing GajiGesa
PlafonHingga Rp2 miliar per usaha per siklus
TenorHingga 90 hari
BiayaMulai 1,75% per bulan, bunga dihitung dari pokok berjalan
PencairanHingga 85% nilai invoice (di luar PPN)
AgunanTanpa agunan tambahan
Syarat utamaPT atau CV, beroperasi minimal 2 tahun, invoice aktif ke buyer tepercaya, maksimal 14 hari sejak tanggal invoice

Nah, kalau bisnismu sering menghadapi jeda pembayaran, Invoice Financing GajiGesa bisa menjadi solusi modal kerja yang tepat.

Cairkan hingga 85% nilai invoice, dengan plafon sampai Rp2 miliar dan tenor hingga 90 hari — prosesnya cepat, tanpa agunan tambahan, dan biaya mulai dari 1,75% per bulan.

Jangan biarkan modal kerjamu terus terkunci di tagihan yang belum dibayar. Ubah invoice menjadi arus kas yang bekerja untuk bisnismu hari ini.

Diskusikan Kebutuhan Modal Kerjamu

Ingin tahu berapa nilai invoice yang bisa dicairkan untuk bisnismu? Isi formulir di bawah artikel ini, dan tim GajiGesa akan menghubungimu untuk berdiskusi langsung, tanpa biaya konsultasi dan tanpa komitmen.


FAQ

Apa itu Term of Payment (TOP)?

TOP adalah batas waktu pembayaran invoice yang disepakati penjual dan pembeli. NET 30 berarti invoice harus dilunasi paling lambat 30 hari setelah tanggal invoice.

Berapa Term of Payment yang wajar untuk B2B di Indonesia?

TOP B2B umumnya 30–60 hari. Survei Atradius 2025 mencatat rata-rata sekitar 50 hari di sektor agri-food dan farmasi, dan 55 hari di sektor kemasan. Jika masih bingung, rumus sederhananya adalah yang tidak lebih panjang dari siklus kas bisnismu.

Bagaimana cara menagih invoice yang lewat jatuh tempo tanpa merusak hubungan?

Mulai dengan pengingat sopan sehari setelah jatuh tempo, lalu telepon PIC finance pelanggan untuk menanyakan kendalanya. Tawarkan cicilan untuk tunggakan besar, dan tahan pengiriman baru hanya jika kontrak mengaturnya.

Apa bedanya invoice financing dan anjak piutang?

Pada invoice financing, invoice dijadikan dasar pembiayaan dan kamu melunasinya ketika pelanggan membayar. Pada anjak piutang (factoring), piutang dialihkan ke perusahaan pembiayaan, yang umumnya kemudian menagih langsung ke pelanggan.

Apakah PPN tetap harus disetor walau invoice belum dibayar?

Umumnya ya. PPN terutang saat penyerahan barang atau jasa, bukan saat pembayaran diterima. Konsultasikan detailnya dengan konsultan pajakmu.

Apakah invoice financing butuh agunan?

Tergantung penyedianya. Invoice Financing GajiGesa tidak mensyaratkan agunan tambahan; yang dinilai adalah kelayakan bisnis kamu dan kualitas invoice serta buyer-nya

Hubungi Kami