Blog

Aturan Lengkap Jam Kerja Karyawan Terbaru Menurut Depnaker: Dampak dan Mitigasi Risiko

aturan jam kerja

Sebenarnya, ada berapa jumlah hari kerja dalam sebulan? Lalu, di tengah tren kerja fleksibel, apakah aturan jam kerja masih jadi hal yang wajib diperhatikan?

Jawabannya tetaplah, iya. Buat perusahaan, aturan jam kerja bukan cuma perihal administrasi. Hal ini berkaitan langsung dengan hak karyawan, sekaligus jadi dasar kepatuhan terhadap regulasi. 

Di sisi lain, setiap industri punya ritme kerjanya masing-masing. Ada yang berbasis shift, ada yang lebih fleksibel, semua tergantung kebutuhan operasional.

Oleh karena itu, wajar kalau jam masuk antarpusahaan bisa bervariasi. Akan tetapi, bukan berarti tanpa aturan, ya. 

Di Indonesia, ketentuan jam kerja, waktu istirahat, hingga lembur sudah diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan dan turunannya, lalu diterjemahkan ke dalam kebijakan internal perusahaan.

Pertanyaannya, apa yang perlu dilakukan agar aturan ini bisa diterapkan secara praktis? Selain itu, apa dampaknya terhadap kegiatan operasional bisnis sehari-hari?

Aturan Jam Kerja Karyawan Menurut UU Ketenagakerjaan

Pertama-tama, baiknya kamu pahami dulu aturan yang berlaku beserta detail lengkapnya.

Di Indonesia, aturan jam kerja diatur dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, yang kemudian diperbarui melalui UU Cipta Kerja dan peraturan turunannya.

Secara umum, ada dua skema jam kerja yang berlaku:

  • 7 jam per hari dan 40 jam per minggu untuk sistem 6 hari kerja
  • 8 jam per hari dan 40 jam per minggu untuk sistem 5 hari kerja

Artinya, dalam satu bulan, jumlah hari kerja biasanya berkisar di 20–26 hari, tergantung kebijakan perusahaan, kalender kerja, dan hari libur nasional.

Selain itu, ada beberapa ketentuan penting lain yang perlu diperhatikan:

1. Regulasi waktu istirahat

Melansir laman Abhitech, karyawan berhak mendapatkan waktu istirahat minimal 30 menit setelah 4 jam bekerja terus-menerus. 

Hal ini sering dianggap sepele, padahal termasuk komponen wajib dalam kepatuhan.

2. Aturan hari libur mingguan

Perusahaan wajib memberikan minimal 1 hari libur dalam seminggu. Untuk sistem 5 hari kerja, biasanya 2 hari libur.

3. Aturan jam lembur karyawan

Lembur hanya boleh dilakukan dengan persetujuan karyawan dan harus dibayar sesuai ketentuan. Ini termasuk batas maksimal lembur dan perhitungan upah lembur yang sudah diatur pemerintah.

Nah, untuk keberhasilan operasional bisnis, peraturan ketenagakerjaan tentang jam kerja ini wajib diatur kembali sesuai kebutuhan dan tren sektor industri.

Jumlah hari kerja dalam 1 bulan = 260 hari kerja selama setahun / 12 bulan = 22 hari kerja (perusahaan dengan 5 hari kerja seminggu)

Kenapa Aturan Jam Kerja Tetap Penting untuk Bisnis

aturan jam kerja

Meski tren kerja makin fleksibel, aturan jam kerja tetap jadi fondasi operasional. 

Tanpa kontrol yang jelas, risiko bisa muncul, baik dari sisi biaya, kepatuhan, maupun kesejahteraan karyawan.

Beberapa dampak yang paling sering terjadi:

1. Beban lembur yang tidak terkontrol

    Tanpa perencanaan tenaga kerja yang matang, lembur sering jadi solusi instan untuk mengejar target operasional. 

    Masalahnya, kalau ini terjadi terus-menerus, biaya lembur bisa meningkat tanpa disadari.

    Dalam jangka pendek, mungkin terlihat sebagai suatu hal yang bisa dikelola. Namun, dalam beberapa bulan, akumulasi biaya lembur bisa menggerus margin perusahaan, terutama di industri dengan workforce besar atau sistem shift. 

    Belum lagi risiko kelelahan karyawan yang berujung pada penurunan produktivitas, absensi yang meningkat, hingga potensi turnover.

    Kalau tidak dikontrol, lembur bukan lagi solusi, tapi jadi sumber inefisiensi baru.

    2. Kompleksitas payroll

      Semakin dinamis jam kerja dan lembur, semakin kompleks juga proses payroll. 

      HR tidak hanya menghitung gaji pokok, tapi juga harus memastikan perhitungan lembur, potongan, hingga tunjangan sesuai dengan data kerja yang terus berubah.

      Sedikit saja kesalahan, baik dari sisi data absensi atau perhitungan, bisa berdampak langsung ke karyawan. 

      Gaji yang tidak sesuai atau terlambat dibayarkan sering jadi pemicu turunnya kepercayaan, komplain internal, bahkan konflik industrial.

      Di sisi lain, kompleksitas ini juga memperlambat proses payroll. Ketika prosesnya tidak efisien, risiko keterlambatan pembayaran semakin besar.

      Mitigasi Risiko: Dari Pengelolaan Jam Kerja ke Stabilitas Payroll

      payroll financing

      Nah, agar perusahaanmu bisa tetap compliant dan bisnis berjalan dengan efisien, perusahaan perlu pendekatan yang lebih terstruktur.

      Sebagai contoh, kamu bisa coba gunakan sistem absensi dan manajemen shift yang jelas.

      Selain itu, lakukan perencanaan tenaga kerja berbasis kebutuhan operasional dan pastikan sistem payroll mampu mengakomodasi perubahan jam kerja.

      Karena pada akhirnya, semua akan bermuara ke satu hal: gaji harus tetap dibayarkan tepat waktu.

      Di sinilah kombinasi solusi dari GajiGesa menjadi semakin penting.

      Dengan Earned Wage Access (EWA), karyawan bisa mengakses gaji yang sudah mereka hasilkan lebih awal. Ini membantu mengurangi tekanan finansial, terutama saat jam kerja dan lembur berubah.

      Di sisi lain, perusahaan juga perlu memastikan likuiditas tetap aman. Melalui Payroll Financing dari GajiGesa, perusahaan bisa tetap mendistribusikan gaji tepat waktu, setiap waktu, tanpa terganggu kondisi cash flow.

      Pada akhirnya, pengelolaan jam kerja bukan hanya soal patuh pada regulasi, tapi tentang menjaga keseimbangan antara operasional, biaya, dan kesejahteraan karyawan.

      Perusahaan yang mampu mengelola ketiganya dengan baik akan lebih siap menghadapi dinamika bisnis, tanpa mengorbankan kepercayaan tim di dalamnya.

      Hubungi Kami