Resources

Apa Itu Pendapatan Disposibel dan Bagaimana Cara Menghitungnya?

Apa sih yang dimaksud dengan pendapatan disposibel atau disposable income? Simak penjelasannya dalam artikel berikut ini!

Ini serba-serbi mengenai pendapatan disposibel yang perlu kamu tahu.

Pernah mendengar tentang pendapatan disposibel? Apa sih itu dan apa pentingnya untuk mengetahui cara menghitung disposable income kamu? Berikut kami jabarkan mengenai disposable income, seberapa pentingnya hal ini sebagai indikator ekonomi, dan apa bedanya dengan pendapatan diskresioner. Wah, apa lagi, tuh?

Cara menghitung disposable income atau pendapatan disposibel

Pendapatan disposibel adalah uang yang tersisa dari pemasukan kamu setelah kamu membayar semua pajak yang ditetapkan oleh pemerintah. Cara menghitungnya cukup mudah mengikuti formula sederhana berikut:

Pendapatan disposibel = pendapatan pribadi – pajak pribadi.

Singkatnya, disposable income adalah uang yang tersisa dari gaji kamu setelah dipotong pajak penghasilan, serta pemotongan gaji lainnya tergantung perusahaan tempat kamu bekerja, seperti JHT (Jaminan Hari Tua), JP (Jaminan Pensiun), dan BPJS Kesehatan. Kamu juga mungkin lebih familiar dengan istilah gaji bersih atau Take Home Pay.

Baca juga: 3 Cara Mengelola Keuangan agar Terhindar dari Stres

Mengapa pendapatan disposibel penting?

Pentingnya untuk mengetahui berapa disposable income kamu adalah untuk mengatur anggaran pengeluaran kamu setiap bulannya.

Tak hanya untuk kamu pribadi, cara menghitung disposable income atau pendapatan disposibel rumah tangga juga penting untuk negara karena memiliki signifikansi ekonomi yang penting. Tidak hanya itu adalah salah satu penentu utama belanja konsumen, tetapi juga salah satu dari lima penentu permintaan.

Berapa banyak pendapatan sekali pakai yang dimiliki seseorang atau populasi orang dapat membantu ekonom menentukan berapa banyak uang yang mungkin mereka belanjakan untuk barang dan jasa atau menabung.

Pendapatan disposibel adalah indikator utama daya beli dan konsumsi rumah tangga. Perubahannya memengaruhi permintaan barang dan jasa dan aktivitas perekonomian di berbagai negara. Pengeluaran rumah tangga mencakup bagian yang signifikan dari produk domestik bruto (PDB). Bahkan, di beberapa negara, kontribusinya mencapai lebih dari 50% PDB.

Baca juga: 10 Cara Mengatur Keuangan Agar Tidak Boncos Setiap Bulannya

Disposable income penting untuk menggambarkan daya beli rumah tangga. Ketika disposable income meningkat, kita mengharapkan mereka akan meningkatkan belanja. Peningkatan belanja merangsang bisnis untuk meningkatkan produksi dan merekrut tenaga kerja. Sebagai hasilnya, perekonomian tumbuh, tingkat pengangguran menurun dan prospek pendapatan rumah tangga membaik.

Dari data OECD, Amerika Serikat menempati urutan pertama negara dengan disposable income per kapita tertinggi di 2018 dengan US$53,123. Di posisi kedua dan ketiga, ada Luksemburg (US$47,139) dan Swiss (US$41,561).

Pendapatan disposibel dengan pendapatan diskresioner, apa bedanya?

Pendapatan diskresioner? Apa lagi, tuh?

Pendapatan diskresioner adalah sesuatu yang berbeda dengan disposable income. Jika cara menghitung disposable income adalah dengan menghitung pendapatan pribadi dikurangi pajak, maka cara menghitung pendapatan diskresioner adalah pendapatan disposibel dikurangi kebutuhan-kebutuhan esensial seperti perumahan (sewa ataupun cicilan rumah), makanan, listrik, transportasi, kesehatan, dan lainnya.   

Sederhananya, cara menghitung pendapatan diskresioner adalah sebagai berikut:

Pendapatan diskresioner = Total pendapatan – Pajak pribadi – Pengeluaran rutin

atau

Pendapatan diskresioner = Pendapatan disposibel – Pengeluaran rutin

Sebagai sebuah catatan, kamu hanya memasukkan pajak pribadi sebagai pengurang pendapatan. Itu mengecualikan pajak tidak langsung lainnya, seperti pajak penjualan dan pajak pertambahan nilai (PPN).

Bisa dibilang, pendapatan diskresioner adalah “uang sisa” setelah kamu membayar semua pengeluaran rutin atau kebutuhan esensial. Kamu dapat menggunakannya untuk makan di restoran, traveling, hiburan, dan barang atau kebutuhan tersier lainnya. Kamu mungkin melihatnya sebagai uang yang menyenangkan untuk dibelanjakan pada hal-hal yang tidak benar-benar dibutuhkan, setelah pengeluaran penting tercukupi. Atau juga dapat menabungnya, mengalokasikannya ke berbagai instrumen keuangan seperti saham dan reksa dana.

 

Sumber: The Balance