Blog

7 Penyebab Turnover Karyawan Tinggi Pasca Lebaran yang Perlu Diwaspadai Perusahaan

Turnover karyawan yang tinggi merupakan salah satu hal paling mengkhawatirkan yang selalu muncul setelah periode Lebaran. 

Tren ini umumnya terjadi karena karyawan mulai mempertimbangkan peluang kerja baru setelah menerima THR dan memiliki waktu untuk merefleksikan perjalanan karier mereka.

Bagi perusahaan, kondisi ini tentu bukan sekadar pergantian tenaga kerja biasa. Tingginya angka turnover dapat mengganggu stabilitas operasional, meningkatkan biaya rekrutmen, serta memperlambat produktivitas tim yang sedang berjalan.

Proses mencari, merekrut, hingga melatih karyawan baru juga membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit.

Ketika hal ini terjadi secara bersamaan dalam jumlah besar setelah Lebaran, tim HR dan pihak manajemen sering kali harus bekerja ekstra untuk menjaga kelangsungan operasional perusahaan.

Oleh karena itu, memahami penyebab dan pola turnover pasca Lebaran menjadi langkah penting bagi perusahaan.

Dengan strategi yang tepat, perusahaan dapat mengantisipasi potensi lonjakan resign sekaligus menjaga stabilitas tim dalam jangka panjang.

Penyebab Turnover Karyawan Tinggi Pasca Lebaran

1. Karyawan mulai mengevaluasi kariernya

Periode Lebaran sering menjadi momen refleksi bagi banyak orang, termasuk dalam hal karier. 

Setelah menikmati waktu libur yang cukup panjang, banyak karyawan mulai mengevaluasi kembali kondisi pekerjaan mereka saat ini.

Mereka mempertimbangkan beberapa hal seperti peluang pengembangan karier, tingkat kepuasan kerja, hingga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. 

Jika karyawan merasa bahwa pekerjaan saat ini tidak lagi memberikan ruang berkembang atau tidak sesuai dengan harapan mereka, keputusan untuk mencari peluang kerja baru pun mulai muncul.

Situasi ini sering menjadi salah satu faktor yang memicu tingginya turnover setelah Lebaran.

2. Banyak perusahaan membuka lowongan baru

Setelah memasuki kuartal kedua, banyak perusahaan mulai membuka kembali proses rekrutmen untuk mendukung rencana ekspansi bisnis atau menggantikan posisi yang kosong. 

Melansir laman Haiilo, kondisi ini membuat pasar tenaga kerja menjadi lebih aktif dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Dengan semakin banyaknya lowongan kerja yang tersedia, karyawan memiliki lebih banyak pilihan untuk berpindah ke perusahaan lain yang menawarkan peluang lebih menarik. 

Hal ini membuat mobilitas tenaga kerja meningkat dan berkontribusi terhadap tingginya turnover di berbagai industri.

3. Ketidakpuasan terhadap kompensasi dan benefit

Kompensasi masih menjadi salah satu faktor utama yang memicu tingginya turnover di banyak perusahaan. 

Setelah menerima THR atau melakukan perbandingan dengan perusahaan lain, sebagian karyawan mulai menyadari bahwa paket kompensasi yang mereka terima belum cukup kompetitif.

Selain gaji pokok, karyawan juga semakin memperhatikan berbagai benefit tambahan yang mendukung kesejahteraan mereka, seperti:

  • Fleksibilitas kerja.
  • Program kesejahteraan karyawan.
  • Benefit finansial yang membantu pengelolaan keuangan.

Jika perusahaan tidak mampu menyediakan paket kompensasi dan benefit yang kompetitif, risiko turnover dapat meningkat.

4. Beban kerja meningkat setelah libur panjang

Setelah periode libur Lebaran, aktivitas operasional perusahaan biasanya kembali berjalan dengan intensitas yang lebih tinggi. 

Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu singkat, sehingga beban kerja karyawan meningkat secara signifikan.

Jika peningkatan beban kerja ini tidak diimbangi dengan manajemen kerja yang baik, karyawan dapat mengalami tekanan kerja yang cukup tinggi. 

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menurunkan kepuasan kerja dan membuat karyawan mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan lain.

Ketika keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi terganggu, risiko karyawan resign juga semakin besar.

5. Kurangnya program retensi karyawan

Penyebab lain angka turnover karyawan meningkat adalah kurangnya strategi retensi yang efektif.

Banyak perusahaan masih terlalu fokus pada proses rekrutmen tanpa memberikan perhatian yang cukup pada upaya mempertahankan karyawan yang sudah ada.

Padahal, strategi retensi dapat memberikan dampak besar terhadap stabilitas tenaga kerja perusahaan. 

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menyediakan jalur pengembangan karier yang jelas.
  • Memberikan pelatihan dan pengembangan skill.
  • Membangun budaya kerja yang sehat dan suportif.
  • Menyediakan benefit yang mendukung kesejahteraan karyawan.

Dengan strategi retensi yang tepat, perusahaan dapat menekan risiko turnover tinggi secara lebih efektif.

6. Pengaruh lingkungan sosial dan rekomendasi dari relasi

Periode Lebaran juga menjadi momen berkumpul dengan keluarga, teman lama, hingga relasi profesional. 

Dalam suasana tersebut, tidak jarang terjadi pertukaran informasi mengenai pekerjaan.

Percakapan sederhana mengenai gaji, benefit, atau pengalaman kerja sering kali membuat loyalitas karyawan goyah. Dalam kata lain, mereka mulai membandingkan kondisi pekerjaan pribadi dengan orang lain. 

Bahkan, beberapa karyawan bisa langsung mendapatkan referensi pekerjaan dari teman atau kerabat.

Hal ini dapat mempercepat keputusan seseorang untuk berpindah kerja dan pada akhirnya berkontribusi terhadap turnover karyawan tinggi setelah Lebaran.

Strategi Mengurangi Turnover dengan Benefit Finansial Modern

Selain strategi manajemen SDM, perusahaan perlu mempertimbangkan penyediaan benefit finansial yang membantu karyawan mengelola kondisi keuangan mereka dengan lebih baik. 

Nah, untuk keperluan tersebut, salah satu solusi yang semakin banyak digunakan perusahaan adalah Earned Wage Access (EWA) atau Akses Gaji Fleksibel.

Layanan ini memungkinkan karyawan untuk mengakses sebagian gaji yang telah mereka peroleh sebelum tanggal gajian tiba.

Dengan adanya fleksibilitas ini, karyawan dapat memenuhi kebutuhan finansial mendesak tanpa harus bergantung pada pinjaman berbunga tinggi.

Beberapa manfaat EWA bagi perusahaan dan karyawan antara lain:

  • Membantu meningkatkan kesejahteraan finansial karyawan.
  • Mengurangi stres finansial yang dapat memengaruhi produktivitas kerja.
  • Meningkatkan kepuasan dan loyalitas karyawan.
  • Mendukung strategi retensi untuk menekan turnover karyawan.

Dengan menyediakan benefit yang relevan dengan kebutuhan karyawan saat ini, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih stabil, produktif, dan mendukung kesejahteraan tenaga kerja.

Hubungi Kami